Dunia yang paling indah adalah saat manusia tak tahu hari esok akan terjadi apa, anggap saja manusia purba, meskipun besok hujan meteor, tetap saja ketawa-ketiwi dan bertingkah gila karena saat itu tak ada televisi, anggap saja yang akan memberitakan akan ada hujan meteor dan ilmu kian sedikit sehingga tak ada pintar dan tak ada bodoh. Atau juga adakah segepok uang yang terlihat dimata. Mau makan? ambil golok cari apa saja yang bergerak. Angin termasuk? ya, termasuk makanya ada istilah makan angin. Disitu ilmu mulai berkembang. makin pinter makin sikat.
Seperti itulah kami waktu SMA. Meniru zaman purba atau prasejarah, hidup zaman seperti tak ada televisi, meskipun hingar bingar kekhawatiran disekitar, kita tak peduli, kalaupun tahu "ya meteornya kan besok, ngapain riweuhnya sekarang ? atau sembako naik? ya tinggal makan bubur aja sii, ribet deh lo. Inilah hidup, hanya untuk hari ini, tak pedulikan ironi. segelas kopi, sebatang rokok, duduk di kantin lalu setengah berbisik "indahnya dunia". Tak ada prinsip dan atau yang bermateri. Adapun mana tahu dia berita? tahu pun mana peduli dia dengan ironi. Dan cinta, weits, weits, weits, perpustakaan yang ada di Babylonia pun kalah cerita jika dijabarkan atau orang per satu di sekolah, Dunia ini Indah, indah, sangat indah, "indah, gue suka sama lo, lo mau jadi cewe gue gak?" kata temen gue si ichsan, 15 menit setelah jam pulang, Rame gila.
Baiknya kuceritakan selongsong awal kehidupan saat zaman ku mengenal prasejarah di SMA, saat dunia tak peduli lagi dengan cita-cita, esok mau jadi apa. Karena fikiran hari esok lah yang buat kita tak bahagia :ketakutan. seperti saat zaman kutulis ini, persis sama perasaan yang ku tulis.
Mungkin kau akan lebih tahu perasaanku jika seperti ini :
Perlu dijabarkan ?
foto ini diambil seperti 2 jam setelah tauran, tapi kenyataannya diambil setelah 15 menit cabut dari sekolah, saat itu aku kelas 2, tapi ketua DPR saja aku tak tahu namanya. Yang pasti hari itu mesti nongkrong, puas puas dan puas, malam dan siang, saja dan sama, atau sama saja.
Hari ini adalah hari ini, hari Esok seperti hari ini.
Narcisme (narsisem)
Aku tak akan lebih banyak berkata-kata karena gambar akan ceritakan segalanya, kau akan lebih mengerti perasaannya jika kau melihat. dan beberapa jabar dibawahnya
Ceritanya 15 menit sebelum tauran, tapi padahal kita sama sekali kurang eksis di basis tempur karena emosi bisa diredam dengan makan, atau dengan alasan bonyok itu lebih menyakitkan 2 bulan daripada emosi 1 hari.
foto diambil di tengah, padahal di luar gambar di foto ada sekitar 3 angkatan yang baris, tapi narsis boleh berekspresi kan, biar kata alayers tapi zaman itu lagi ngetren cing. narsis abis deh, kalo yang ini ?
Aduh gan, bingung nih kata bantu apa yang mau di tulis, yah paling cuma bisa mendeskripsikan bahwa :
ini tuh ichsan temanku, tepat dibelakang rumah dia berfoto dengan memegang satu buah kaleng cat bekas dan satu jerigen minyak tanah, dengan ekspresi muka yang tak bisa dideskripsikan
imajinasi setelah nonton starwars..
coba kita zoom :
ya cocok,
ketika tiada tempat lagi berfoto
100 persen SMA dan kepergok kencing sembarangan
asiiiik
begitu banyak kata yang berderet tapi hanya sedikit cerita, sedikit gambar mungkin bisa membuatmu mengerti, bahwa senang itu perlu, jangan fikirkan hari esok, jika rancangan membuatmu gila.
_____________________________________________________________________________________
Oke Kawan Finnally Word i just said : Begitulah dunia, otak yang hanya segumpal disuruh berfikir seisi dunia. kadang yang kau anggap purba, lebih dari sangat bahagia jika kau hanya punya sedikit pengetahuan yang membuatmu senang. jangan menangis kawan, menangislah jika kau senang. dan bersenang-senanglah sepuasnya.. kita hidup untuk senang kan ?? biarkan hari esok berjalan semaunya !!!
Dimana Rumahku ?
Tulisan-tulisan jalanan, di gerobak milik si tua, di tembok-tembok retak, di bangku sekolah, di bangunan setengah runtuh, pamflet-pamflet harapan, maupun di landai hati : ku coba tulis dan mengerti, hingga kutemukan "dimana rumahku" karena satu hal yang ku tahu tentang hidup "Dunia ini memang tak adil" mengertilah atau teriaklah "Adili Dunia" atau kau akan keluar, dan tertawa separuh iba, takkan sadar, setengah kaleng bir ditangan
Rabu, 04 Agustus 2010
Selasa, 03 Agustus 2010
This is my blog ?
Hai, kawanTak ada gading yang tak retak, jika ada pun retakkan saja gadingnya, begitu juga dengan tak kenal maka tak sayang, jika tak sayang, ah, lebih sayang jika tak kenal, hehehe, begitulah pepatah, sepatah atau beberapa patah kata pun kau penggal masih bisa mengandung arti. Sedikit cerita tentang blog ini, karena jika ku langsung berkotek, ku tahu kau pasti bingung sekaligus pintar. Karena bingung adalah berfikir, semakin bingung semakin berfikir, semakin berfikir semakin pintar.
Blog ini sengaja ku buat dengan ketidak-sengajaanku, artinya aku tak sepenuhnya diniatkan dalam hati bahwa aku akan membuat blog ini. Sepatah kata ingin, dengan sejerih payah ku kumpulkan berawal dari keyboard yang kuraba semenjak tiga tahun yang lalu. 'Buat Blog apa gunanya sih ?' itulah pertanyaan sekaligus jawabanku jika teman atau kerabat mengajak halus agar kuterjerumus dalam hobinya. Bagaikan mendirikan sekolah, aku tak punya Visi atau Misi yang terpampang di depan gerbang sekolah atau jika aku membuat 'blog' itu (fikiranku saat itu). Lain batu lain pegunungan, lain dulu lain sekarang, lain waktu lain kali saja ceritanya ya, hahaha, maaf sedikit senda gurau hilangkan basa-basi..
Namaku Aldi sebut saja Aldot seperti teman-temanku yang kurang kerjaan itu, merubah nama orang menjadi ilmiahnya tersendiri. Namun apalah arti nama jika kau tak menoleh jika kupanggil. Aku tak suka menulis, maupun membaca, kau tahu warung nasi di pinggir jalan ? di tutupi kain dengan tulisan "WARUNG NASI PAK ANTON - SEDIA NASI GORENG .. BLA BLA BLA" anggap saja ukuran Fontnya 9000 jika takarannya dalam microsoft word. Aku tak peduli akan huruf, Huruf S di depan palang kereta saja tak kuhiraukan. Saat itu umurku menginjak kelas 2 SMA di lantai sekolah. Aku ingin senang dan senang, ku tak hiraukan sedu sedan di pinggir jalanan.
Saat ku beranjak kelas tiga, lidahku mulai terasa masam. lama kelamaan menjadi agak pahit, seakan tersesat di samudera hidup, aku tak tahu apa yang terjadi setelah hari esok, ijasah sudah ditangan, tapi kehidupan berjalan mulai menyeramkan, orang tua semakin mengurangi tuntutan, aku seakan dilepas di belantara hutan, di belantara kota ini, hidupku dilepas sekehendakku, aku mulai takut, ragu, depresi berat, seperti remaja elang yang disuruh terbang, cari makan sendiri, kasarnya lu yang nyopet dompet orang, ya lu yang dipenjara. Hidupku mulai tanggung jawabku.
Teman-teman mulai mengumpulkan jam terbang demi pengalaman, pahit kehidupan semakin terasa diujung lidah. Cinta monyet menjadi cinta kian menjadi gila. 'Aku suka kamu' mengundang jawaban 'kamu mau ajak aku kemana?' atau 'apa yang kamu bisa untukku?'.
Saat itu aku mulai membaca semua tulisan, termasuk warung nasi pak Anton, yang kenapa hanya menyediakan nasi goreng, aku 'bingung' memaksaku semakin 'bingung' lalu memaksa menjadi "harus pintar" karena harus cari lebih banyak tahu. Sama seperti memperhatikan seekor itik berebut makanan, atau anak dan induk kucing yang saling membagi. Aku bingung lalu berfikir, otakku semakin penuh, batin diserang, hati tak nyaman, padahal dunia sekalipun tak bergurau. Akhirnya kutuang semua emosi di tembok-tembok jalanan, batas dinding Jembatan, di gerobak si tua. Sampai akhirnya ku mengerti "Dunia memang tak adil"
dari saksi tembok jalanan yang kutulis jatuh dalam aspirasi sebagai pribadi dalam diri. Kucari media atau bejana yang lebih bisa menghargai coretan-coretanku, kutulis di surat kabar, karena jika kutulis di dinding jembatan, yang baca paling satu atau dua orang, yaitu aku dan petugas yang mengecet jembatan.
Begitulah aku, yang mencoba memperkosa kata-kata, atau mencegah hati menjadi tong sampah dengan kata-kata yang tertimbun.
Atau kutulis kata-kata hina, karena 'kau' tak dapat kujerat, atau tak sempat singgah di jaring laba-laba yang ku sulam, melainkan duduk manis di kursi goyang itu, dengan cintanya yang semakin beruban. Demi gadis yang ku kasihi dan dihina oleh rautnya, aku menulis ribuan sajak dan ribuan cerita dalam Novel, yang sampai kini belum usai, Karena lama kupilih kata-kata yang terbaik dari yang terbaik. tak dapat kutemukan. Sepatah kata atau dua kata lebih dan kurang, akhirnya berceceran di media massa atau koran, dan kutulis sebagiannya untukmu.Begitulah ungkapanku dalam sajak. sajak ini untukmu 'awan'
Kenapa harus 'Dimana Rumahku ?'
Kupilih nama ini karena suatu hal, dimana hari ini rasa penyesalanku semakin berat, rasa khawatir yang hebat, ketidak adilan dimana-mana, rasa cinta yang mendendam, depresi berat, tuntutan sekitar, pembunuhan mental dan karakter, aku bingung, rasanya aku ingin seperti lima belas tahun lalu, dimana aku dirumah, bersuka cita dan bercanda, tak hirau akan berita di tv, yan penting aku tertawa melihat tweety atau tom and Jerry. Bahkan aku tak sadar saat itu krisis moneter, dan ibuku sedih melihat pegawai, karena waktu itu ayah sedang menjadi pegawai, dan aku senang karena dirumah ia adalah seorang ayah yang bisa main kuda-kudaan.
Lain dulu lain sekarang, sekarang seperti zaman gila-gilaan, gila dalam arti benar, aku khawatir, dipaksa keadaan, dipaksa merantau kesana kemari. masa senangku hilang, rumahku hilang, tweetyku hilang, tom and jerry tak lagi lucu.
aku ingin rumahku,
dimana senang ada padaku,
tweety dan tom jerry
menjadi gelakgak tawa sore itu
aku yakin satu hal
kau pun mau seperti yang kumau
sehingga tak ada kemunafikan
Begitulah aku, aku hanya menyebar ceceran kata-kata, walau kutahu tak ada yang lebih dari membaca ini, sama halnya seperti ku menulis di dinding jembatan, namun ada kepuasan batin dari itu, hasratku puas, dan aku tak menjadi gila, walau aku tak bisa menjadi lagi kecil, tapi aku masih dapatkan rumahku. (august 3/10)
Langganan:
Postingan (Atom)










